Sponsor FAJAR SIDIK MASTER STOKIST 0812-2099-3333

Judul tersebut sengaja saya angkat karena bisnis SINERGY ECO RACING saat ini tengah menjadi salah satu topik terhangat di dunia maya, khususnya social media. Dari hasil observasi yang saya lakukan, kelihatannya opini yang berseliweran di dunia maya ini agak kurang berimbang, terutama antara yang pro dengan yang kontra. Salah satu isu yang menonjol dan mengundang perdebatan yang sangat intensif adalah dihubungkannya bisnis SINERGY ECO RACING ini dengan BISNIS INVESTASI BODONG.

Isu ini perlu diangkat karena saya melihat adanya bias terhadap bisnis utama SINERGY ini, dan secara syariah, core business ini menentukan apakah bisnis SINERGY ini melanggar syariah atau tidak. Kalau kita lihat secara mendalam, bisnis utama SINERGY adalah Produk Penghemat BBM dan beberapa produkkesehatan. Secara syariah, tentu bisnis ini tidak ada masalah. Peruntukannya jelas, yaitu untuk membantu mengendalikan atau menghemat kebutuhan BBM yang sehari-hari menjadi kebutuhan pokok. Dan untuk produk kesehatan, menurut saya adalah untuk pendamping saja, meski tidak sedikit juga yang membutuhkannya.

Yang dipermasalahkan adalah, Ini dianggap mengundang “kecurigaan” bahwa uangnya akan dipakai dalam skema yang mengarah kepada money game. Dan kita sama-sama tahu kalau money game itu tidak sesuai syariah. Padahal, akadnya jelas. Yaitu jual beli. Calon member menyetor uang untuk membeli produk SINERGY. Intinya member mendapat produk yang sepadan.

Terhadap isu ini, jawaban saya sederhana. Pertama, adalah tidak fair kalau kita membandingkan SINERGY ini disandingkan dengan MONEY GAME atau INVESTASI. Karena member baru mendapat produk yang kaya manfaat. Yang artinya akad jual-belinya sah.

Kedua, sah-sah saja secara syariah, sebuah perusahaan menjual produk pada tingkat harga tertentu. Adalah hak SINERGY untuk menjual Produk Eco Racing, LVN dan Habbatusauda pada level harga berapapun, baik Rp 1.000.000 maupun lebih besar dari angka tersebut.  Karena ada beberapa paket pembelian yang ditawarkan oleh SINERGY. Sama seperti orang jualan bakso, kenapa harga bisa berbeda antara warung bakso satu dengan warung bakso lainnya. Itu kan terserah penjual masing-masing, karena mungkin ada beberapa VARIAN. Dan itu dilakukan setelah mereka mempertimbangkan berbagai faktor. Dan bukan hak kita untuk mengotak-atik harga jual bakso di warung tersebut. Kalau tidak mau beli, ya tidak masalah. Kalau mau beli, ya harganya sebesar itu. Simpel.

Hasil penjualan warung bakso itu menjadi hak penuh warung tersebut. Sama seperti saat kita bekerja dan mendapat gaji. Adalah hak kita untuk memanfaatkan gaji tersebut untuk apa saja. Tentu kita berharap bahwa pemanfaatan dana tersebut sesuai dengan syariah, misalnya dengan mengeluarkan zakat, infak dan shadaqahnya terlebih dahulu sebelum dibelanjakan untuk hal lain.

Saya juga mendengar bahwa manajemen SINERGY sudah banyak melakukan pembenahan dan bersiap-siap menjadi perusahaan sangat besar. Produk utama ECO RACING siap diproduksi besar-besaran dalam waktu dekat, yakni bulan JULI 2018 yang mampu melayani 10rb paket/hari.

Masalah dua akad dalam satu transaksi, makelar atas makelar, dan KOMISI.

Bagaimana dengan bisnis para mitra dan kaitannya dengan “samsarah ‘alaa samsarah” dan skema ponzi? Sebelum masuk kedalam isu itu, ada baiknya kita sepakati esensi dari suatu bisnis. Esensi bisnis adalah menjual produk sebanyak-banyaknya kepada sebanyak-banyaknya konsumen. Jadi dua hal yang penting, yaitu : jumlah produk yang terjual dan jumlah pengguna yang memakai produk kita. Nah, para mitra ini harus memenuhi dua target ini: pasarkan PRODUK SINERGY kepada masyarakat seluas-luasnya, dan ajak masyarakat untuk menggunakan PRODUK  ini sesering-seringnya. Ada target omset yang harus dipenuhi. Besarnya omset ini akan mempengaruhi besarnya pendapatan yang akan dinikmati oleh para mitra. Makin besar omset, ya pendapatannya makin besar. Masuk akal bukan?

Bagaimana cara mengajak masyarakat sebanyak-banyaknya? Ya ajak mereka untuk menjadi pengguna (user) atau menjadi mitra bisnis. Kalau masyarakat memilih jadi pengguna saja, maka ajak mereka untuk memakai PRODUK SINERGY ini sesering-seringnya. Kalau mereka tertarik untuk ikutan berbisnis, maka menjadi mitra bisnis adalah pilihan yang tepat. Jadi, masalah “member get member” adalah dalam kerangka ini, yaitu mencari pengguna atau mitra bisnis sebanyak-banyaknya. Ini sesuatu yang tidak masalah dalam Islam.

Bagaimana dengan “samsarah ‘alaa samsarah”? Menurut saya, skema bisnis SINERGY tidak mengarah pada “samsarah ‘alaa samsarah” (kita singkat SAS biar mudah). SAS yang mengarah pada pendzoliman terjadi ketika A merekrut B, B merekrut C, dan C merekrut D, sementara A menerima bonus/komisi dari kerja B merekrut C dan C merekrut D, B menerima bonus/komisi dari kerja C merekrut D, dan D tidak dapat apa-apa kecuali ia merekrut E dan seterusnya. Tentu yang dizalimi adalah D dalam hal ini. Dalam skema money game, selalu downline terbawah yang dizalimi. Apakah SINERGY seperti itu?

Sekarang kita lihat, apa yang dilakukan SINERGY. Pertama, soal angka penjualan PRODUK yang mencapai Rp 1JT, itu sah-sah saja sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Bahwa kemudian perusahaan memberikan bonus kepada mitra yang berhasil menggaet seorang user atau mitra bisnis baru, itu juga sah-sah saja secara syariah. Ini karena status uang tersebut adalah milik perusahaan, sehingga perusahaan bebas menggunakannya. Mau memberi bonus kepada si A, B C, dan D, atau tidak memberi bonus sama sekali, itu hak perusahaan. Kalau anda punya uang, maka anda bebas memanfaatkannya bukan?

Kedua, terkait dengan cash back. Dalam suatu transaksi belanja ulang, cash back-nya Rp 5.000, Dalam contoh di atas, baik si A, B, C maupun D sama-sama menggunakan produk eco racing. Dalam konsep ini, apakah downline yang paling bawah, yaitu si D, dirugikan karena dari Rp 5.000 tersebut, perusahaan membagikannya dalam bentuk bonus kepada si A, B, dan C? Jawabannya, tentu tidak. Mengapa? Karena si D telah mendapatkan haknya, yaitu Rp 20.000 sebagai cash back dari belanja ulang yang dilakukannya. Adapun yang Rp 5000, sekali lagi itu adalah uang milik perusahaan, yang bebas digunakan oleh perusahaan. Dalam hal ini, SINERGY memberikan “bagian” keuntungannya sebagai stimulus kepada para mitra bisnisnya, dengan kriteria dan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh mitra tersebut. Diantara kriterianya adalah besarnya omset yang dihasilkan. Ingat ya, besarnya omset yang dihasilkan.

Kezaliman baru muncul ketika hak si D yang Rp 20.000 tersebut dikurangi secara sengaja, atau diambil untuk membayar C, B dan A. Ketentuan cash back Rp 20.000 berlaku secara adil kepada A, B, C dan D. Kalau D lebih sering belanja ulang, maka boleh jadi ia mendapatkan cash back yang lebih besar dari A, B dan C.

Jadi, skema “samsarah ‘alaa samsarah” tidak berlaku disini. Disinilah pentingnya kejelasan akad yang dilakukan.

Kesimpulannya, secara syariah, menurut saya tidak ada pihak yang dizalimi, sehingga tidak bertentangan dengan syariah. Skema bisnis SINERGY juga jelas-jelas bukan skema money game. Tidak ada pihak yang dirugikan. Saya menduga, munculnya tudingan money game ini ketika melihat marketing plan-nya SINERGY. Tapi kalau lihat kondisi SINERGY hari ini, terlihat hal yang sangat jauh berbeda. Ini bisa dilihat dari website resmi SINERGY, yaitu www.sinergy-world.com, bukan dari website-website lain yang mengatasnamakan SINERGY.

Gagasan PRODUK PENGHEMAT ini menurut saya juga sangat cemerlang. Apalagi saya mendengar informasi bahwa akan banyak produk lain ke depannya. Ini tentu misi besar yang harus kita dukung, sehingga niat berhemat BBM ala SINeRGY ini bisa direalisasikan dengan baik.

Saya juga berharap semoga proses di SIUP-L bisa berjalan dengan lebih cepat, supaya pihak-pihak yang menaruh perhatian pada SINERGY, tidak menduga-duga lagi soal bisnis ini. Dan untuk SINERGY, memang harus ada penyamaan SOP (standard of operating procedure) terkait dengan pemasaran produk ini, agar masyarakat bisa memahami hakekat bisnis SINERGY ini dengan lebih baik, sehingga persepsi bahwa seolah-olah bisnis ini mengandung unsur money game, bisa dikikis dan dihilangkan. Juga kepada para mitra bisnis SINERGY, agar memahami konsep akad dan bisnis yang dikembangkan SINERGY. Tujuannya, supaya tidak salah dalam menjelaskan keunggulan produk SINERGY ini. Wallahu a’lam.